Puisi 5 Menit

Tepat pukul 15.00 ku tuliskan sajak ini
Akan berakhir tepat setelah detik berjalan, dan
lelap saat jarum panjang menunjuk angka satu.

Lima menit itu bukan hanya sesaat,
tapi memberikan arti lebih di hidup ini.
Saat itu, kelipatan tiga dari angka lima.
Kita bertemu pada waktu pertama kalinya.

Singkatnya awal perjumpaan,
meneruskan ke detik berikutnya.
Kini tinggal tersisa satu menit,
Menuju angka satu.

Bukankah semuanya itu akan bertemu,
di waktu di mana aku memulai.
Dan di angka satu kita mengakhirinya.


Yogyakarta

anttoindra
26.12.2013.15.05

Posted in Bebas | Leave a comment

Takdir Seekor Semut

"Semut Hitam" Sumber = kfk.kompas.com

 

 

 

“Hidup mati itu diatur sama Si empunya hidup…”

 

 

 

Sumber gambar : kfk.kompas.com

Siapa yang menyangka pagi ini mendapatkan pelajaran penting akan konsep hidup dari seekor semut. Seolah-olah Allah telah membuat skenario ketika pagi hari ini, sewaktu akan mandi, seekor semut diutus untuk memberikan titah keTuhanan. Ah ini mungkin hanya dugaan berlebih, tapi ya terserah orang akan menganggap itu apa. Titah itu bahkan di tempat yang sama sekali tidak terduga, yaitu closet toilet.

Sewaktu masuk kamar mandi, yang ada closet toiletnya, kulihat seekor semut sedang terjebak di dalamnya. Berulang kali semut itu akan keluar dari tempat itu, upayanya selalu gagal. Karena memang sudah waktunya metabolisme ini berlangsung dan isi perut harus dikeluarkan, maka yang terjadi selanjutnya adalah proses defekasi. Semut itu terlarut ke dalam closet saat air terguyur. Hati ini hanya berucap lirih, ah mungkin takdir seekor semut harus berakhir di closet toilet ini. Istinja merupakan hal yang kemudian orang-orang lakukan setelah melakukan defekasi, begitupun dengan yang kulakukan. Begitu terkejutnya Saya, ketika semut hitam tadi bangkit, merangkak perlahan, dan akhirnya dengan hanya satu kali percobaan mampu keluar dari closet area dengan terhuyung-huyung. Semut itu pun akhirnya dapat menuju lubang di salah satu sudut toilet. Hati ini hanya dapat berucap Allahu Akbar…

Saya hanya dapat tergeleng-geleng menyaksikan peristiwa hebat tadi pagi. Ini bukan hanya urusan kamar mandi, closet toilet, defekasi, dan seekor semut. Persitiwa ini lebih dari itu, sebuah peristiwa yang menyadarkan Saya, bahwa makhluk ini, yang menulis tulisan ini, bukanlah Si empunya Hidup. Saya bukanlah Dia yang dapat menjatuhkan vonis akan suatu takdir, bahkan untuk seekor semut sekalipun. Sopo koe ???

Terkadang dengan mudahnya kita menjatuhkan vonis tanpa ilmu kepada makhluk-makhluk ciptaanNya. Seakan-akan diri ini yang menguasai hidup, menjangkau segala urusan ataupun perkara. Ilmu ini hanya secuil dibandingkan ilmu semesta alam, dibandingkan sejatinya Ilmu yang ada dalam gengamanNya. Takdir itu rahasia, dan hanya Dia lah yang Maha Mengetahui skenario-skenario kehidupan ini. Mati hidup itu urusan mutlak, dimana hanya Si empunya Hidup yang mengetahui rahasianya. Apalagi ketika berbicara kelanjutan dari itu, perihal surga dan neraka, manusia baru mendapat gambarannya, belum tau wujud aslinya. Dan lalu dengan semena-menanya kita memutuskan suatu perkara tanpa ilmu yang cukup akan keseluruhan hal di atas.

Ya Allah, Ya Rabb, Ya Tuhan Pencipta Semesta alam. Engkau adalah Dzat yang Maha Pengasih, Penyayang, Pemaaf. Ketika ada makhlukmu yang menduga dirinya sebagai Engkau secara sengaja atau tidak, Engkau berikan seekor semut sebagai sebuah pelajaran, untuk berpikir bahwa diri ini bukan siapa-siapa. Peristiwa pagi ini hanya seekor semut, makhluk yang mungkin lebih lemah dari sosok manusia namun terkait kemuliaan hanya Allah yang mengetahui. Bukankah segala yang ada di langit dan di bumi bertasbih padaNya, tidak terkecuali seekor semut hitam ??? Semut yang bahasanya tidak dapat dimengerti oleh manusia, sangat mungkin dalam setiap tindak-tanduknya, dalam segenap tutur bahasanya menyucikan nama Tuhannya. Bagaimana ketika justifikasi terhadap manusia itu berlaku, apalagi tanpa ilmu yang cukup ??? Sedangkan manusia adalah sebaik-baik makhluk yang diciptakanNya dimana terbekali dengan cipta, rasa, dan karsa serta nalar untuk berpikir.

Sudah pantaskah kita mengucapkan suatu hal untuk menghakimi manusia ketika diri masing-masing tidak mengetahui ilmunya ??? Tentu saja itu semua kuasa Tuhan, Allahlah yang lebih paham isi hati seseorang, niatan masing-masing makhluknya. Manusia, ataupun Saya, acap kali menjadi Tuhan atas manusia lain. Menjadi Tuhan, dengan menetapkan takdir, menjanjikan kematian, hingga memastikan tempat manusia di surga atau neraka. Sopo koe ???

” Orang tua di Jawa sering mengucapkan ungkapan ini, ketika melihat tingkah anaknya yang keblabasan akan suatu tutur kata maupun perilakunya kepada orang lain. Sebuah ungkapan yang sering terucap dengan spontan : Sopo koe ???

Yogyakarta

04122013.11.00

anttoindra

Posted in religi | Leave a comment

Gambar (gak) Kreatif

 

 

“Ah ya, dunia serta isinya terlalu sedikit jika kita hanya menuliskannya dengan tinta seluas tujuh samudra.”

 

Seorang Trainer pernah menginstrusikan kepada peserta untuk menggambar bebas. Dan beberapa saat kemudian, setelah gambar di tunjukkan, 90% peserta menggambar gunung, sawah, matahari, pohon, awan, jalan, rumah, dan ada burung terbang yang menyerupai huruf m dalam satu bingkai. Trainer itu hanya tertawa, dan mengatakan bahwa kreativitas peserta tidak dimaksimalkan secara lebih.

Jika dipikirkan sesaat mungkin kita akan manggut-manggut, mengiyakan apa yang dikatakan trainer benar, kreativitas kita tidak berkembang, terlalu ortodok, terlalu kuno. Setelah dikaji dan dipikir ulang sebenarnya gambar tersebut dan instrumen yang menyertainya adalah perwujudan hati dan jiwa yang terlukiskan secara spontan. Seorang trainer tersebut mungkin perlu menilik lebih jauh, bahwasanya gunung, sawah, matahari, awan, jalan, rumah, dan burung akan berpadu menjadi penggambaran lengkap alam semesta.

Penggambaran alam semesta secara spontan adalah pengalaman yang terlukiskan di atas kertas. Orang tua kita sewaktu kecil mengajari kita menggambar seperti yang disebutkan di atas. Orang tua kita juga di ajari menggambar oleh kakek atau nenek, dan seterusnya. Menggambar itu tidak perlu bisa baca, tulis, dan hitung. Menggambar hanya membutuhkan rasa, memerlukan greget untuk menggoreskan pensil ataupun alat gambar lainnya. Rekaman dan memori seseorang tentang alam semesta, termasuk orang tua kita, adalah suatu hal yang wajar, suatu naluri.

Seorang yang hidup di desa baik itu di dataran tinggi ataupun rendah akan menggambar gunung, matahari, jalan, pohon, sawah, rumah, dan burung yang terbang. Berbeda dengan seorang yang hidup di pesisir pantai, mungkin saja akan menggambar tentang laut, matahari, ikan, perahu, rumah, dan pantai. Pada dasarnya kita akan menggambar segala hal yang ada di lingkungan, di sekitar kita.

Lingkungan dan alam sekitar kita adalah sumber inspirasi untuk menggambarkan suatu rasa. Itulah mengapa gambar gunung, sawah, rumah, matahari, awan, pohon, jalan, orang, burung sering dijumpai dalam momen-momen tertentu yang sifatnya serba cepat, serba mendadak, dan tanpa pikir panjang. Sewaktu ujian masuk SD, saya menggambar gambar yang katanya (gak) kreatif, gambar anak kecil pada umumnya. Gambar yang cukup mudah, garis lurus, garis lengkung, dan lingkaran. Jadilah gambar yang sering dikatakan tidak kreatif itu.

Garis dan goresan sederhana akan menjadi pembelaan kita secara mudah untuk dapat melukiskan itu secara cepat dan spontan. Garis lurus pada ujungnya dapat menggambarkan jalan, sawah, rumah, pohon, dan garis cakrawala. Garis lengkung dapat menggambarkan gunung, burung, awan, dan matahari terbit. Lingkaran akan dapat diinterpretasikan sebagai matahari bersinar utuh, ataupun kepala manusia. Lengkaplah sudah gambar (gak) kreatif itu.

Menilik lebih jauh gambar (gak) kreatif itu, ternyata ada pesan tersmbunyi di sana, ada senandung alam yang disampaikan lewat sebuah gambar. Matahari, awan, gunung, sawah, pohon,  jalan, rumah, dan orang melukiskan pesan adanya kehidupan harmonis di sana. Ada bagian dari makro kosmis dan mikro kosmis yang hidup berdampingan, bersinergi menjadi satu keutuhan. Jiwa ini menggambar alam, menggoreskan cuplikan semesta, merasakan sentuhannya, melihat dengan pasti ada Sang Pencipta me-wujud di sana.

Jika kita akan membedah satu persatu instrumen yang ada dalam gambar (gak) kreatif itu, tulisan ini akan terlalu panjang, dan mungkin lebih baik akan Saya tuliskan beberapa penjelasan dari instrumen itu di lain kesempatan, jika Sang Pencipta memberikan waktu. Aamiin.

“Semesta itu sederhana, jika kita melihat keindahan yang ada padanya. Karena keindahan soal rasa, bukan tentang kalkulasi rumit di atas meja kerja”

Yogyakarta, 22112013.11.10
anttoindra

Posted in Bebas | Leave a comment

Belajar “Makaryo”

“Semar kui mesam-mesem neng kamar…”

 

“Makaryo” itu identik dengan bekerja, namun jauh daripada itu kata “makaryo” berasal dari kata karya, berkarya, menghasilkan sesuatu. Pencapaian kata berkarya lebih tinggi dari pada bekerja. Berkarya itu menghasilkan sesuatu, sedangkan bekerja, ya bekerja ada sesuatu atau tidak yang dihasilkan itu tidak penting.

Sebuah semangat dan inspirasi sangat dibutuhkan dalam “makaryo”. Perlu adanya suatu hal untuk membuat kita “makaryo” dengan kualitas dan kuantitas yang istimewa, yang spesial kalo perlu tambah telur mata sapi sebagai toppingnya. “Makaryo” itu butuh penjagaan supaya tetap dapat progresif.

Hubungannya dengan Semar kui opo ? Itu apa kok di atas ada Semar mesam-mesem ???

Mengingatkan kembali akan cerita pewayangan Jawa, kisah empat manusia luar biasa pembasmi kejahatan dan pembela kebenaran, mereka adalah pana, pono, puno kawan. Berbagai banyak terjemahan tentang mereka, ah yang jelas mereka lebih terkenal daripada presiden. Mereka telah hidup di hati masyarakat dari waktu ke waktu melintas jaman. Lalu apa yang spesial dari mereka ???

Izinkan Saya berbagi cerita bersama mereka para kawan-kawan hebat ini. Mereka mengajari Saya belajar tentang hidup, belajar berperilaku selayaknya rakyat yang bersikap pada atasan atau raja. Saya juga belajar tentang konsep-konsep hebat “makaryo” dari mereka. Belajar “makaryo” dari nama mereka, yang mungkin otak-atik gatuk, tapi tidak ada salahnya kita belajar berhitung dari angka 1,2,3 hingga mungkin kita dapat belajar aljabar kompleks. Siapa yang tau…

Saya mulai belajar “makaryo” dari anak Semar yang bernama Petruk. Petruk, tidak perlu Saya menjelaskan kembali siapa dia, sudah sangat terkenal. Petruk sendiri boleh di urai menjadi kepePET-TRUK (kepepet truk). Orang yang kepepet truk, pasti merasakan sakit. Kondisi kepepet merupakan kondisi darurat, dari situlah orang mulai “makaryo”. “Makaryo” berawal dari suatu kondisi yang menjadikan kita untuk melakukan suatu hal dan menghasilkan suatu yang bermnanfaat. Kondisi kepepet baik dari keadaan luar maupun dalam, menjadikan kita untuk mau tidak mau harus “makaryo”, entah itu tuntutan moral, sosial, keluarga, ataupun diri sendiri. Mudahnya, tuntutan diri sendiri bermula dari seorang pengangguran yang tertuntut untuk dapat “makaryo” apalagi lulusan berpendidikan. Boleh jadi tuntutan keluarga untuk menghidupi anak dan istrinya. Keadaan lingkungan untuk menjadikan kesejahteraan bersama masyarakat sekitar menjadi tuntutan mulia bagi pribadi-pribadi pilihan yang terpanggil jiwanya. Kepepet juga indentik dengan rasa sakit. “Makaryo” harus dimulai dengan rasa sakit sebagai pelecut. Rasa sakit inilah yang menjadi pelecut semangat. Rasa sakit juga yang mengingatkan akan nikmatnya suatu rasa nyaman, rasa aman, dan sehat. Jika boleh dikata, berakit-rakit ke hulu berenang-renang kemudian, bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian. Ah tentu saja bukan terkait hedonisme, namun bersakit di awal sebagai modal awal mencapai kesuksesan di akhirnya.

Gareng, makhluk unik dan ajaib ini juga punya pesan tersendiri tentang “makaryo”. Gareng dapat di urai menjadi nyiGar erENG-ereng (nyigar ereng-ereng). Nyigar itu membelah, ereng-ereng itu dataran kanan kiri sungai. Anak-anak sering bermain di ereng-ereng, atau mungkin lebih dikenal dengan pereng kali. Pereng kali identik dengan dataran luas beralaskan pasir endapan sungai. Tempat yang sangat nyaman bagi anak-anak untuk bermain mulai dari dino ball, betengan, engklek, januran, sepakbola, buat futsal juga bisa, hingga permainan menarik lainnya. Nah ini dia, nyigar ereng-ereng, nyigar pereng menjadi suatu hal yang sulit untuk dilakukan, tapi tentu saja bukan suatu hal yang tidak mungkin. Begitu juga dengan “makaryo”, kita sering bertemu hal-hal yang seakan-akan muskil, mustahil untuk dilakukan. Stereotip, rasanya juga bukan. Sugesti, bisa jadi. Memulai suatu hal, ataupun menjalani saat-saat kritis pastilah menjadi bagian dari “makaryo”. Sekarang pilihannya mau di hadapi, atau lari dari kenyataan dan mengatakan semua itu tidak mungkin dilakukan??? Sudah terlalu banyak kisah hidup sukses orang-orang hebat yang bermula dari suatu hal bernama ketidak mungkinan. Itulah mereka tokoh-tokoh yang nyigar ereng-ereng, nyigar pereng. Menjadikan suatu hal yang sekiranya tak mungkin menjadi suatu karya besar, karya yang bermanfaat bagi peradaban umat manusia.

Kalo berbicara yang satu ini membuat orang cukup bergairah. Bagong dapat diuraikan menjadi ngoBAhke Geger lan BokONG (ngobahke geger lan bokong). Ngobahke itu menggerakan, geger itu punggung, dan bokong itu pantat. “Makaryo” itu mau tidak mau, ya harus menggerakan dua itu. Bagi orang yang – mohon maaf – tidak memiliki tangan dan kaki pun tetep dapat “makaryo” mereka tetap menggerakkan geger dan bokong mereka. Banyak dari orang yang tidak sempurna organ tubuhnya, justru menjadi inspirasi bagi orang-orang yang memiliki bagian tubuh utuh dan sempurna. Bagaimana bisa kita berpangku tangan, mengharap belas kasihan orang lain, sedang di sisi dunia lain seorang yang tidak memiliki kaki dan tangan menjadi motivator hebat dan sudah mengelilingi banyak negara. Mereka “makaryo”, mereka menggerakkan geger dan bokong mereka. Sedangkan kita, atau khususnya Saya sendiri menjadi suatu keharusan untuk dapat lebih menggerakkan tidak hanya geger dan bokong, tetapi instrumen-instrumen badan bernama kaki dan tangan untuk “makaryo” lebih gigih, lebih hebat, dan lebih dasyat. Tidak ada alasan sebenarnya ketika kita tidak menggerakkan geger dan bokong untuk “makaryo” karena itu sudah menjadi kesatuan gerak badan kita. Satu hal yang perlu dan penting untuk di catat, saat ngobahke geger dan bokong, sudahkah itu menjadi bagian dari “makaryo” kita, menghasilkan hal-hal yang jauh lebih bermanfaat, dibandingkan hanya menggerakkan geger dan bokong untuk tidur malas di ranjang empuk???

Saatnya mesem, saatnya tersenyum… :)
Semar itu kalo boleh diuraikan menjadi mesam-meSEM neng kamAR (mesam-mesem neng kamar). Secara mudahnya mesam-mesem dapat diartikan dengan senyam-senyum. Kamar sendiri memiliki arti yang jauh lebih dalam, jika boleh dikatakan kamar itu ruang pribadi. Kamar di bahasa jawa di identikkan sebagai tempat untuk melakukan hal-hal pribadi mulai dari tidur, ganti pakaian, nulis surat cinta, ataupun jenis kegiatan-kegiatan privasi lainnya. Hanya orang yang memiliki kamar, malaikat, dan Tuhan lah yang mengetahui apa yang di lakukan di dalamnya. Bahkan ada dalam suatu kondisi malaikat pun tidak diperkenankan masuk dalam kamar, hehe… Kamar dari beberapa paparan tersebut menjadi sebuah privillage bagi setiap orang, artinya kamar menjadi suatu hal yang menjadi keleluasaan pribadi. Keleluasaan pribadi dalam setiap manusia di ibaratkan dengan hati. Hati manusia lah yang dapat mengetahui apa yang sedang di alami, dan di rasa tentu saja Yang Maha Membolak-balikan hati juga pasti tahu seberapa jauh dan luasnya hati itu. Mesam-mesem neng kamar, merupakan mesam-mesemnya hati. Hubungannya apa dengan “makaryo”??? Bukankah hati yang akan memulai suatu pekerjaan lewat niatnya, lewat tekad dan kemauannya. Jika hati sudah mulai mesam-mesem, itu menandakan orang sedang bungah, sedang bahagia lahir dan batinnya. Itulah yang diharapkan dari awal sebuah “makaryo”. Hati harus mesam-mesem dulu, hati harus senang dulu, hati harus ikhlas dulu sebelum “makaryo”. Semar merupakan pengemong, pengasuh para kawan-kawan hebat bernama Petruk, Gareng, dan Bagong. Semar inilah yang menjadi penengah ketika semua yang Petruk, Gareng, dan Bagong lakukan menjadi polemik, menjadi masalah satu dengan lainnya. Tidak lain, dan tidak bukan adalah adanya rasa gembira, bungah dalam “makaryo” menjadikan semua yang kita jalani menjadi jauh lebih indah dan bermakna.

Indahnya ketika semua yang cemberut menjadi tersenyum. Kembali pada sebuah pesan klasik, bukan “makaryo” indah yang membuat kita tersenyum, tetapi tersenyumlah sehingga “makaryo” menjadi jauh lebih indah.

( Note pertama di kantor :) , teruntuk bagi rekan-rekan yang sudah “makaryo” )

Yogyakarta, 11112013.10.45
anttoindra

Posted in Opini | Leave a comment

Kerinduan yang Terbalas

 

 

 

 

 

” Pernahkah mendengar kerinduan yang terbalas? Saat kering tanah kemarau, merindukan rinai hujan. Mereka saling diam mengharap perjumpaan #malam “

Kerinduan itu terbalas,
lewat jatuhnya air mata langit
bersama kasih Tuhan
dari waktu ke waktu

Kerinduan itu terbalas,
bersama angin timur
mengiringi bulan perlahan pelan
hingga tiba masanya

Kerinduan itu terbalas,
bersama doa terpanjat
teriring dari hari demi hari
dan tercurah pada akhirnya

Kerinduan itu terbalas,
bersama debu menari
berdendang pada detik perlahan
hingga terbang mencumbu angan

Kerinduan itu terbalas,
saat aku dan kamu terdiam tanpa kata
mendoakan satu dan lainnya
menunggu saat itu tiba

anttoindra
Yogyakarta, 28102013.20.00

Posted in Bebas | Leave a comment

Belajar dari Rakyat-Punakawan

“ Tidak selamanya rakyat itu hanya menjadi penonton kehidupan, merekalah yang sebenar-benarnya menjadi pelaku kehidupan ini, jika dalam pewayangan edisi jawa, punakawan, mereka memberi warna dengan cara berbeda…”

Obrolan siang itu benar-benar menyadarkanku akan esensi kehidupan ini. Esensi akan pentingnya menyiasati hidup yang bolehlah mau dikatakan susah ya susah, mau dikatakan mudah ya mudah. Tergantung menyikapi hidup dari sudut pandang apa dan kita berperan sebagai siapa di sana.

Berbicara terkait punakawan, bolehlah kita mengenal siapa mereka. Mereka adalah tokoh selingan yang paling ditunggu dalam pewayangan. Jika ada suatu pementasan, punakawan akan memberikan hiburan di tengah berlangsungnya lakon yang sedang dipentaskan oleh dalang. Punakawan tidak dikenal dalam lakon Barathayuda ataupun Ramayana, karena punakawan ini orisinil dari pewayangan Jawa hasil modifikasi dari cerita asli. Punakawan beranggotakan empat orang yaitu Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong.

Akanlah sangat panjang lebar, ketika kita mengungkap falsafah secara umum aktor-aktor punakawan tersebut, yang tentu saja sudah banyak di kupas di media seperti Wikipedia ataupun mesin pencari lainnya. Saya akan mencoba menguraikan satu per satu tokoh punakawan ini dari hasil obrolan siang, yang mau tidak mau saya berkontemplasi secara menyeluruh tentang bagaimana selayaknya dan seyogyanya menjalani hidup ini.

Dimulai dari tokoh Gareng. Perawakan Gareng yang memiliki tubuh kurang sempurna, mata juling, mulut lebar, tangan ceko, hingga kaki yang pincang. Ternyata dibalik hal tersebut pemaknaan yang dalam dapat kita gali secara luar biasa. Kurang sempurnanya tubuh gareng menandakan bahwa tiada manusia yang sempurna di muka bumi ini. Mata yang juling kadang bola mata melebar, atau menyempit dapat melambangkan fokus atas suatu perkara ketika menyempit, dan memiliki pandangan luas ketika mata melebar. Mulut yang lebar, adalah suatu perumpamaan dengan topik obrolan luas, seyogyanya mulut yang lebar memiliki kecakapan dalam berbahasa. Tangan yang ceko menunjukkan bahwa seorang gareng memiliki sifat yang tidak pernah mengambil sesuatu yang bukan menjadi hak miliknya. Sedangkan yang terakhir kaki yang pincang menunjukkan langkah yang selalu berhati-hati. Selalu penuh pertimbangan dalam bertindak. Jika dapat diibaratkan, Gareng itu seperti akademisi yang berada di belakang meja. Menjadi orang yang sangat teoritis, wawasan luas, perkataan yang berbobot, tidak mau mengambil kendali apa yang bukan menjadi miliknya, dan sangat berhati-hati terhadap segala hal.

Petruk menjadi punakawan yang memiliki tubuh tinggi menjulang, hidung mancung, dan memiliki kantong yang bolong. Tubuh tinggi menjulang dan hidung mancung menjadi sebuah perumpamaan akan kesabaran yang dimiliki seorang petruk. Sebagaimana diketahui petruk merupakan karakter punakawan yang sangat sabar dalam mengahadapi segala permasalahan. Sangat woles dalam menyelesaikan segala persoalan. Kantong yang bolong, menunjukkan rasa legowo lapang dada yang begitu luar biasanya. Petruk tidak peduli berapa pemasukan yang diterima, dan berapa pengeluarannya. Nothing to lose dalam menjalani hidup, easy going dalam menikmati apa yang sedang dihadapinya. Jika dapat diibaratkan dalam kehidupan nyata, Petruk berperan sebagai orang yang dapat dibilang useless. Sangat santai menjalani hidup. Sangat sabar dalam menghadapi segala keadaan. Dan pada akhirnya tidak berbuat apa-apa.

Bagong adalah putra kesayangan Semar. Anak bungsu yang paling bandel, ngomong sak karep udele dhewe. Anak bungsu yang paling banyak polah. Paling jujur mengungkap segala keadaan. Polahnya tidak kenal tata karma, bahkan di depan bapaknya sekalipun. Bagong merupakan simbol perlawanan, pemberontak akan segala hal. Perumpamaan Bagong seperti pegiat LSM yang tanpa tedeng aling-aling menunjuk objek, baik itu benar ataupun itu salah. Berontaklah ia ketika ia tidak menemui ketidakadilan yang dialami oleh dirinya.

Semar sendiri merupakan bapak punakawan. Perawakan Semar boleh dibilang wagu dari dandanan hingga secara fisik. Semar seorang yang tua, tetapi memiliki pakaian yang masih memiliki kuncir di depan. Keseimbangan di simbolkan dengan semangat yang muda namun kearifan orang dewasa. Semar memiliki raut muka yang dapat dibilang aneh, matanya menangis namun mulutnya tersenyum. Bukankah dalam hidup ini kadang kali ada suka, dan ada duka? Secara fisik semar memiliki keganjilan, ia seorang pria namun memiliki payu dara dan pantat ukuran wanita. Ah ya bukankah dalam semesta ini diciptakan berpasangan pria dan wanita untuk saling melengkapi??? Semar dapat diibaratkan sebagai keseimbangan, hati kecil yang berbicara dalam setiap aktifitas yang kita jalani.

Hidup ini kadang dipenuhi dengan segala permasalahannya. Tentu saja kita tidak harus menjadi salah satu dari ke-4 tokoh punakawan di atas. Menyiasati hidup perlulah menyiasati segala tindak-tanduk perumpamaan yang disimbolkan tokoh punakawan. Akan tidak berjalan dunia ini jika hanya menjadi salah satu tokoh. Dunia tidak akan jalan jika tidak ada yang action dan terlalu berhati-hati ketika kita menjadi Gareng. Dunia akan tanpa visi ketika kita hanya menjadi Petruk. Dunia akan luar biasa kacau balau ketika kita secara ansih menjadi Bagong. Kita perlu penuntun yang bernama semar, yang dapat menyeimbangkan itu semua.

Tentu saja kita perlu memiliki wawasan luas, berhati-hati, dan fokus akan tujuan ketika kita berbicara ide-ide brilian. Ketika kita berbicara gagasan luar biasa akan mimpi dan cita-cita. Ketika kita merumuskan strategi ataupun rensra untuk suatu perubahan dan perbaikan. Pada saat itu Semar dalam diri kita membisikkan, berperanlah menjadi Gareng. Saat masalah datang mendera, bertubi-tubi. Ocehan serta cercaan orang lain yang tak berdasar tertuju pada diri kita, di saat ujian luar biasa berat, maka semar dalam tubuh kita berbisik, jadilah engkau Petruk. Dan tentu saja ketika ketidak adilan ada di sekiling kita, adanya suatu permasalahan yang harus diselesaikan dengan tindakan, ataupun ketika kedzaliman mengancam Semar akan berbisik keras, saatnya engakau menjadi Bagong.

“ Rakyatlah yang lebih mengetahui keadaan di bawah, bahkan di bawah tanah sekalipun. Rakyatlah yang tau suka dukanya hidup. Menjadi rakyat tidak hanya melulu kita merasakan kesengsaraan hidup yang memang sudah di setting untuk di buat merana oleh para penguasa di atas sana yang tamak akan kekuasaan. Hikmah yang lebih dalam menjadi rakyat ialah saat mencari kelakar ringan, menjemput senyum kecil di tengah prahara kehidupan, dan menemukan kebahagiaan sederhana di balik keping emas serta candu pujian.”

Yogyakarta, 16092013.09.00
anttoindra

Posted in Bebas | Leave a comment

Selilit Birokrasi

“Mungkin orang jarang memperhatikan bersama selilit itu ada kemudahan, ada keberuntungan, hingga kesabaran…”

Pernah mendengar apa yang disebut selilit? Kalo belum pernah dengar pasti pernah merasakan. Selilit yang dimaksud disini adalah ganjalan kecil di gigi, yang rasanya sangat mengganggu, walaupun kecil dan terkadang berlalu begitu saja setelah di atasi. Ah apapun istilah itu, yang namanya selilit bikin galau, bisa bikin gak tidur bahkan,haha lebay. Tapi itu nyata, pernah saya alami sendiri… Ujung-ujungnya butuh sedikit usaha untuk mengatasinya dengan alat doraemon bernama tusuk gigi ajaib,haha…

Birokrasi juga punya selilit, walaupun sejatinya tidak memiliki gigi secara morfologinya. Bahkan dalam struktur kepegawaianpun tidak dikenal kasi pergigian, adanya kasi keuangan, kasi administrasi dan apapun lah yang berhubungan dengan kinerja suatu instansi pemerintahan. Lha gimana, gak punya gigi kok punya selilit ???

Sedikit menyoal birokrasi di Negara ini, Negara tercintaku Indonesia. Bahkan mungkin orang gila sekalipun tetap memiliki segenggam cintanya untuk Negara ini. Sebenarnya saya sendiri bingung mau mendefinisikan birokrasi itu apa. Mudahnya bagi saya ya birokrasi itu seperti suatu alat untuk mempermudah kerja, di mana dalam alat itu ada beberapa komponen yang sambung menyambung menjadi satu. Ya bagi saya birokrasi itu sistem, yang saling berantai satu dengan lain antar komponen di dalamnya. Birokrasi itu ada yang ribet, ada yang cepet tergantung birokratnya deh. Tergantung onderdil yang ada dalam suatu mesin. Terus sekarang balik ke topik kenapa juga ada selilit di birokrasi ???

Saya mulai dari sebuah cerita, ketika saya mengurus surat depnaker yang disebut kartu kuning, walaupun pada kenyataanya warnanya putih. Pada suatu kesempatan saya menjumpai adek kelas waktu SMA dan mengungkapkan bahwa untuk membuat kartu kuning nunggunya cukup lama, daftar dulu ke kantor, menunggu satu minggu kemudian untuk kemudian di input datanya. Well ribet ternyata.

Singkat cerita, saat memasuki halaman kantor, terlihat antrian sudah cukup padat. Mencoba bertanya dalam hati, “Apa iya, hanya dengan mendaftar antrian bisa panjang seperti ini???” Usut punya usut setelah mencari informasi lebih, ada pergantian sistem. Sejak 1 hari sebelumnya tidak menggunakan acara mendaftar terlebih dahulu, namun dilayani on the spot hari itu juga. Okay fine, beruntunglah saya. Tiba pada saat saya dipanggil, syarat saya ada yang kurang, saya tidak membawa Ijazah SD dan SMP pada akhirnya saya harus pulang untuk mengambilnya kembali. Perlu di ketahui jarak kantor dan rumah sekitar 20km, ya kantor depnaker terletak di Kebumen dan saya tinggal di Kecamatan Gombong. Dan ya hari itu dengan tangan kosong kembalilah saya ke peraduan. Kalo bukan seperti itu bukan BIROKRASI namanya.

Pagi harinya saya kembali menuju kantor, dan tepat pukul 09.00 sampailah saya di kantor depnaker Kabupaten Kebumen. Antrian yang begitu puanjang, tempat yang kurang memadai, dan pelayanan yang apa adanya. Bayangkan saja dari penuturan seorang teman untuk mendapatkan kartu kuning perlu waktu antri 2 jam dengan ruang tunggu seadanya. Dalam menunggu boleh pake jungkir balik atau gaya bebas apapun… Boro-boro ruangan ber AC dan ber Wi-Fi kursi tunggu saja berupa latar halaman kantor dinas. Dalam diskusi dengan teman SMA yang saya temui hari itu saya membandingkannya saat proses membuat passport di Kantor Imigrasi Yogyakarta. Pendaftaran on-line, ruang tunggu nyaman, dan ada Wi-Fi nya, ya itu namanya kantor pelayanan publik.

Sedang padat-padatnya menunggu, ada juga pendaftar yang secara bim salabim mendapatkan kartu kuning tanpa proses yang wajar. Tidak antri, tidak berkeringat, dan pam parampam….. Kartu kuning sudah ada di genggamannaya. Bagaimana bisa ??? Bisa saja ini Indonesia bung !!! Datang jam 10, jam 10 lebih 5 kartu kuning sudah di tangan, ilmu sulap macam apa itu… Sudah tidak usah banyak Tanya, hanya di Indonesia mungkin kejadian itu dapat dijumpai. Tanya ken-kenapa???

Uniknya orang Indonesia, di tengah keterbatasan tersebut, orang-orang di negri tercinta ini menikmatinya dengan santai luar biasa. Bagaimana tidak masih banyak obrolan yang dapat disaksikan, bersenda gurau sesama pendaftar, mendapat kenalan baru, atau merokok dengan bebasnya di halaman kantor tersebut. Hidup menjadi orang Indonesia sungguh menyenangkan, kesabaran tiada batas mereka tunjukkan dari fenomena antrian yang panjang. Ya sungguh indah Indonesiaku, aku benar-benar mengagumi mereka yang betul-betul menikmati hidup dalam situasi apapun. Salute !!! Di Negara maju dengan tingkat stress tinggi, mungkin saja orang sudah banyak yang mengadukan complain ataupun bunuh diri mengalami hal seperti ini,haha…

Ada suatu peristiwa menarik, mungkin karena hari itu hari Jumat saya mendapat Rahmat dari Sang Empunya Hidup. Di saat antrian sudah tutup, saya sudah merasa hopeless . Seorang teman yang bertemu saat antrian tutup ternyata dapat memanfaatkan momen-momen terakhir. Ya teman saya dapat masuk dan diurus administrasinya. Harapan kembali muncul, ya saya mencoba untuk kembali menanyakan nasib saya kemarin yang hanya kurang Ijazah SD dan SMP. Dengan sedikit merujuk ke petugas, dan sedikit lobi cantik akhirnya saya menjadi pendaftar terakhir yang di ijinkan mengurus surat kuning di hari Jumat itu. Yeah, I got it. Alhamdulillah…. Sekali lagi, itu yang namanya BIROKRASI di negeri tercinta ini.

Masih banyak Pekerjaan Rumah tersisa di Indonesia. Saya juga tidak akan menuntut banyak kepada pemerintah, toh masyarakat Indonesia masih saja menikmati kewajaran dan kelumrahan ini. Beberapa kejadian di atas menunjukkan adanya selilit birokrasi di negri ini.

“Bukankah jika kita mengalami selilit memang mengganjal tapi ya asik saja kan. Jika mau di bilang, selilit di birokrasi itu mengganjal tapi bikin penasaran dan bikin ketagihan.”

Ini Indonesiaku, mana Indonesiamu ???

Yogyakarta, 07.30.11092013
anttoindra

Posted in Opini | Leave a comment

Sukses Terbesar Dalam Hidupku

Sukses merupakan suatu rangkaian panjang dari suatu perjuangan yang dipadukan dengan kerja keras serta dibumbui atas izin Allah, pencipta alam semesta. Sukses merupakan proses, yang tidak dapat terjadi dengan sendirinya. Jamak orang memiliki dua kata dalam hidupnya terkait sukses, yaitu sukses itu sendiri dan kegagalan. Dua-duanya berjalan beriringan melengkapi satu dengan lainnya. Dalam kamus kehidupan ini justru kegagalan menjadi suatu pembalajaran penting untung mencapai kesuksesan. Seperti kata John F. Kennedy yang berujar bahwa “Hanya mereka yang berani gagal dapat meraih keberhasilan”, ataupun Thomas Alfa Edison yang pernah mengatakan “Banyak kegagalan dalam hidup ini dikarenakan orang tidak menyadari betapa dekatnya mereka dengan keberhasilan (kesuksesan), saat mereka menyerah”. Sukses dan kegagalan beriringan dalam rangkaian perjalanan hidup ini. Beberapa rangkaian kesuksesan dan kegagalan membentuk saya menjadi pribadi yang seperti sekarang ini, menjadi semakin dewasa setiap harinya dan semakin matang menghadapi berbagai problematika kehidupan.

 
Berbicara mengenai sukses yang terjadi dalam hidup ini, tidak terlepas dari rangkaian kesuksesan dan kegagalan yang pernah saya alami ataupun visi luar biasa akan sebuah kesuksesan besar di kemudian hari. Saya memiliki pandangan bahwasanya sukses itu bukanlah hanya capaian yang telah kita dapat, namun sukses juga terdapat pada mimpi-mimpi besar kita yang dengan berbagai daya serta upaya akan dicapai dan diwujudkan nantinya. Bagaimanapun sukses merupakan apa yang telah kita capai dan mimpi akan suatu kesuksesan yang kita rangkai.

 
Sukses dalam hidup ini bermula dari lahirnya saya di bumi ini. Suksesnya ibu saya melahirkan seorang putra yang nantinya diharapkan dapat berguna bagi agama dan bangsanya. Sukses itu berlanjut ketika saya menjadi anak yang mampu berbicara secara normal, berjalan, dan bermain layaknya anak-anak di usianya. Masa pendidikan yang kulalui juga tidak terlepas dari kesuksesan, peringkat terbaik di kelas menjadi langganan yang tentu saja membanggakan kedua orang tua. Prestasi di luar akademik di bidang puisi membuat orang tua meneteskan air mata akan haru bahagia. Capaian besar mulai tertorehkan dengan tercantumnya nama Chandra Nur Triwiyanto di Koran Kedaulatan Rakyat sebagai peserta yang lolos UM UGM, setelah sebelumnya tertolak di dua universitas yaitu UNNES dan UNY. Menjadi mahasiswa fakultas kehutanan dengan jaket almamater berwarna karung goni, menjadi suatu kebanggan tersendiri. Sukses yang dicapai berlanjut dengan beberapa amanah diujikan satu persatu dipundak ini. Menjadi mahasiswa yang mampu menjaga indeks prestasinya, sebagai asisten praktikum, maupun sebagai aktivis kampus, mendapatkan beasiswa untuk dapat meringankan beban orang tua merupakan berbagai rangkaian kesuksesan yang luar biasa. Salah satu kesuksesan terbesar adalah amanah yang pernah saya emban sebagai mahasiswa nomor satu di fakultas kehutanan tepatnya sebagai ketua Lembaga Eksekutif Mahasiswa yang dihasilkan dari proses demokrasi kampus. Rangkaian kesuksesan itu terus berlanjut dengan diterimanya saya sebagai peserta program pembinaan mahasiswa terbaik di seluruh Indonesia yaitu PPSDMS di mana tempat pembinaan tersebut telah banyak menghasilkan pemimpin-pemimpin hebat di kalangan mahasiswa maupun mahasiswa berprestasi lainnya di bidang akademik maupun non akademik serta memiliki alumni yang sudah mulai dapat berbicara di tingkat nasional. Hingga akhirnya sampailah etape baru perjuangan dalam kehidupan ini sebagai seorang lulusan dari Universitas Gadjah Mada, universitas terbaik di Indonesia tepat pada tanggal 21 Mei 2013, 15 tahun reformasi bergulir di negri tercinta ini.

 
Capaian kesuksesan lain yang dapat dikatakan luar biasa, sampai saat essay ini ditulis, ialah dimana jiwa dan raga ini telah menjejakan kakinya di hampir seluruh gugusan kepulauan besar di Indonesia terkecuali Papua yang belum ada kesempatan untuk dapat saya kunjungi. Menikmati kekayaan Indonesia yang menakjubkan dari gunung, hutan, hingga samudranya yang mempesona. Rasa syukur yang begitu dalam dapat menjejakan kaki di Pulau Jawa, Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, dan Kepulauan Maluku tempat saya mengabdi sebagai mahasiswa Kuliah Kerja Nyata UGM. Menjadi salah seorang warga Negara Indonesia yang berpaspor dan dapat mengunjungi negara lain menjadi kesuksesan tersendiri. Malaysia dan Thailand menjadi dua negara yang pernah saya kunjungi, belajar banyak akan budaya dan peradaban.

 
Kesuksesan terbesar dalam hidupku memang belum tercapai, karena sejarah hidup ini masih dan akan terus berlanjut. Rangkaian kesuksesan besar yang semoga akan dapat tercapai ialah mengantarkan kedua orang tua bersama ke tanah suci serta dapat berbakti kepada mereka hingga akhir hayatnya. Di samping itu amanah sebagai seorang Mentri Kehutanan jika suatu saat Allah berkenan mengembankannya di pundak ini, akan menjadi salah satu kesuksesan terbesar dalam hidup. Sebesar-besarnya kesuksesan nantinya adalah menjadi orang bermanfaat bagi sesama yang telah Allah janjikan surgaNya kelak.

Yogyakarta,
28082013.04.00

anttoindra

Posted in Bebas | Leave a comment

Melihat Allah

“Sesungguhnya kita tidak pernah mengerti apa yang telah Allah tuliskan di lauful Mahfudz sana

Kita tidak pernah akan membacanya sebelum Allah mempersilahkan untuk mengejanya

Tidak pernah ada yang mengetahui rahasia-rahasia Allah tanpa seizinNya”

Tanda-tanda Allah hanya bisa kita baca

Lewat makhlukNya

Lewat perantara yang diutus olehNya

 

Aku menganggap Allah ada dengan segala kebesaranNya

Di setiap ciptaanNya yang membuat selalu berfikir

Di setiap prosesNya yang membuat selalu mendendangkan perlahan tasbih, tahmid, dan takbir

 

Dia lah yang mengajarkan manusia kalam dan ilmu

Membuat manusia dapat membaca dan mengerti

Memahami tanda-tanda kebesaranNya

 

Apakah ketika engkau diam di suatu tempat

Ataupun ketika kita berjalan menelusuri penjuru bumiNya

Ya kebesaranNya itu ada di sekeliling kita

 

Gunung, laut, langit, dan awan berkisar bergerak

Beriring dari dua timur menuju dua barat

Siang dan malam memiliki cerita di antara keduanya

 

Ada keajaiban ketika menyongsong fajar terbit

Ada ketakjuban saat mengiringi senja yang larut

Masihkah pikiran itu beku, sebagai saksi rahasia Allah itu?

 

Sekiranya saja nalar ini sehat dan berfungsi sebagaimana mestinya

Tak ada yang akan disangsikan

Akan segala per-wujudanNya atas diriNya yang hak sekaligus kekal

 

“Aku berujar pada diriku sendiri akan suatu keberadaan, akan hakekat penciptaan.

Perwujudan itu nyata, dan dapat dicerna dengan nalar yang bersih sekaligus lapang.

Keindahan, kesucian, dan kebesaran itu selayaknyalah disematkan pada suatu Dzat yang semestinya”

 

Yogyakarta-Lombok-Sumbawa

12-20082013.15.50

anttoindra

Posted in religi | 2 Comments

Belajar Banyak, Banyak Belajar

Hampir saja lewat masa 24 tahun diri ini diberikan kesempatan menikmati udara pagi ataupun pergantian siang dan malam. Begitu banyak yang telah dilalui, bahkan terutama dari hal yang paling sederhana yaitu tumbuh dan berkembang. Pada awalnya diri ini bukanlah siapa-siapa hanya seonggok daging yang ditiupkan padanya roh dari sang Maha Kuasa. Berawal dari setetes mani hingga menjadi seorang yang dapat menulis, membaca dan tentunya mencurahkan pikiran dalam tulisan ini.

Lambat laun waktu berganti, diri ini megetahui banyak hal, banyak peristiwa silih berganti datang dan berlalu dalam putaran waktu. Semua bisa dicermati, semua dapat dicerna satu demi satu dan semua dapat dijadikan suatu pelajaran berharga. Semua dapat dijadikan bahan untuk belajar mengerti hidup, memahami makna yang tersimpan dibalik apa arti penciptaan ini.

Ketika manusia mulai dapat memahami segala yang ada, segala yang terjadi, proses alamiah penalaran berjalan dengan begitu indahnya. Ketika kita lahir pada awalnya, kita belum dapat melihat dengan jelas hingga kurun waktu 4 bulan. Dalam kisaran umur tersebut manusia barulah dapat menggunakan indra yang terbatas. Manusia pun tumbuh dan berkembang, mulai dapat mengenali siapa yang dihadapinya, membalikan badannya, berceloteh, merayap, merangkak, duduk hingga dapat berjalan. Semua terjadi begitu menakjubkan, seolah telah ada yang mengatur mekanisme tersebut dengan begitu rapihnya.

Dari hal sederhana tersebut kita dapat belajar banyak akan salah satu fenomena alam yang terjadi di sekitar kita, bahkan dalam diri sendiri sekalipun. Seseorang akan takjub ketika mempelajari bermilyar-milyar sistem saraf yang ada pada tubuhnya, berapa jumlah tenaga yang diperlukan untuk memompa jantung 1×24 jam, ataupun mata yang mampu membedakan gradasi warna, penyesuainya terhadap cahaya dan  beragam keajaiban lainnya . Itu hanya sebagian kecil hal yang ada di alam semesta ini, baru sebuah ciptaan Allah bernama manusia. Ya manusia yang dalam pembuatan peta skala muka bumi 1:1.000 pun tidak terlihat. Manusia yang dianggap makhluk paling sempurna dengan segala keterbatasannya.

Kita dapat belajar banyak dari sekeliling kita, perkisaran siang dan malam, bersinarnya matahari, udara yang terhirup gratis, birunya langit, tawarnya air yang kita minum, atau hal-hal kecil seperti ribuan semut yang berbaris, burung yang berkicau, ataupun lebah dengan madu dan sarang hexagonalnya yang ajaib.

Namun terkadang semua hanya dijadikan suatu pemandangan biasa, suatu hal yang lumrah. Anggapan bahwa itu “hanyalah…” menjadi suatu hal yang biasa didengar. Pertanyaannya benarkah itu ialah sebuah “hanyalah…” ???

Sepertinya diri ini masih harus banyak belajar akan suatu hal. Terkadang kita mengetahui secara fisik apa yang kita hadapi, namun terkadang kita kurang mampu melihat secara lebih dalam khasanah pengetahuan pada bilik-bilik yang menyusunnya, pada sel-sel yang membentuknya. Tentunya diri ini masih terlalu dangkal dalam menyikapi berbagai persoalan hidup, ketika yang di sentuh hanyalah bagian kulitnya. Diri ini terkadang melupakan hal-hal mendasar dari suatu permasalahan, dari suatu rintangan, dan sibuk mencari pelengkap bagi permasalahan itu sendiri. Bukan menyelesaikan persoalan yang dihadapi. Melihat namun bukan memahami.

Ya kita memang belajar banyak dari suatu hal… Namun kita tetaplah perlu untuk terus banyak belajar akan hal-hal yang sekiranya masih belum tuntas untuk dikaji. Dan bukankah ilmu Allah itu lebih melimpah dari 7 samudra di dunia ini ??? Sebelum nantinya datang suatu masa dimana suatu kondisi yang kita alami, diri ini tidak dapat mengetahui mana yang benar dengan segala kebijaksanaan dan yang salah dengan segala ampunan.

anttoindra
Magelang 00.08.20052013

Posted in Bebas | 2 Comments